My Blog List

  • Once you join the AdSense program – and Google approves your site or sites, which we’ll cover in detail shortly – the actual process of displaying ads on...
    15 years ago

My Blog List

  • Selain halaman elemen yang biasa kita tambahakan ke blog, sebenarnya pihak blogger memiliki sejenis laboratorium untuk mengembangkan berbagai perangkat e...
    18 years ago
Showing posts with label Puisi Taufiq Ismail. Show all posts
Showing posts with label Puisi Taufiq Ismail. Show all posts

President Boleh Pergi

President Boleh Pergi. President Boleh Datang.
Oleh : Taufiq Ismail

Sebuah orde tenggelam 
sebuah orde timbul 
tapi selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas gelombang itu selamat 
Mereka tidak mengalami guncangan yang berat 
Yang selalu terapung di atas gelombang 
Seseorang dianggap tak bersalah sampai dia dibuktikan hukum bersalah 
Di negeri kami ungkapan ini begitu indah 
Kini simaklah sebuah kisah 
Seorang pegawai tinggi gajinya satu setengah juta rupiah 
Di garasinya ada Volvo hitam, BMW abu-abu, 
Honda metalik, dan Mercedes merah 
Anaknya sekolah di Leiden, Montpellier dan Savana 
Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan macam-macam indah 
Setiap semester ganjil istri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura 
Setiap semester genap istri gelapnya liburan di Eropa dan Afrika

Anak-anaknya ....

Anak-anaknya pegang dua pabrik, tiga apotik dan empat biro jasa 
Selain sepupu dan kemenakannya buka lima toko onderdil, 
lima biro iklan, dan empat pusat belanja.

Ketika rupiah anjlok terperosok, kepeleset macet dan hancur jadi bubur, 
dia, hah! 
dia ketawa terbahak-bahak karena depositonya dolar Amerika semua 
Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit Barat, 
jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat 
Krisis makin menjadi-jadi 
Di mana-mana orang antri 
Maka 100 kotak kantong plastik hitam dia bagi-bagi 
Isinya masing-masing: 
Lima genggam beras, empat cangkir minyak goreng, 
dan tiga bungkus mie cepat jadi.

Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi 
dan masuk koran halaman lima pagi sekali 
Gelombang mau datang, 
Datang lagi gelombang setiap bah air pasang 
Dia senantiasa terapung di atas banjir bandang 
Banyak orang tenggelam toh mampu timbul lagi 
lalu ia berkata sambil berdiri:

Yaaa... masing-masing kita kan punya sejeki sendiri-sendiri 
Seperti bandul jam bergoyang-goyang kekayaan misterius mau diperiksa 
Kekayaan... tidak jadi diperiksa 
Kakayaan... mau diperiksa 
Kekayaan... tidak jadi diperiksa 
Kekayaan... mau diperiksa 
Kekayaan... tidak jadi diperiksa 
Kekayaan... harus diperiksa 
Kekayaan... tidak jadi diperiksa

read more

Bagaimana Kalau

Oleh : Taufiq Ismail

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,
dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas,
salju turun di Gunung Sahari,
Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin
dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,
Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia
dibayar dengan pementasan Rendra,
Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi,
dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan,
Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di
kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki
pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara
percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan
margasatwa Afrika,
Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil
mempertimbangkan protes itu,
Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita
pelihara ternak sebagai pengganti
Bagaimana kalau sampai waktunya 
kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.

read more

Malu Aku Jadi Orang Indonesia

Oleh : Taufik Ismail

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini

II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi 
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu 
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek 
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, 
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan 
peuyeum dipotong birokrasi 
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, 
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, 
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati, 
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum 
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas 
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan 
sandiwara yang opininya bersilang tak habis 
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata 
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah, 
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, 
sekarang saja sementara mereka kalah, 
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka 
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia 
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, 
kabarnya dengan sepotong SK 
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, 
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, 
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat 
jadi pertunjukan teror penonton antarkota 
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita 
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan 
yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan 
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa, 
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta, 
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan 
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, 
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng, 
Nipah, Santa Cruz dan Irian, 
ada pula pembantahan terang-terangan 
yang merupakan dusta terang-terangan 
di bawah cahaya surya terang-terangan, 
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai 
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, 
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang 
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza 
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia. 

read more